Kota Pusaka Warisan Bersama





TEMA KIPRAH Volume 61 kali ini membahas mengenai kota pusaka, mengingat bahwa tema tersebut merupakan hal yang penting namun belum banyak diketahui masyarakat luas. Padahal Indonesia merupakan negara kaya akan budaya, yang memberikan kontribusi cukup besar bagi perkembangan kota-kota di Indonesia.

Namun kini, seiring perkembangan penduduk dan era globalisasi maka kota pusaka mulai terancam kelestariannya. Untuk itu, KIPRAH mengangkat tema tersebut dalam salah satu artikelnya berjudulMelestarikan Kota Pusaka, Menjaga Aset Bangsa. Dalam artikel tersebut diulas betapa pentingnya untuk melestarikan kota pusaka karena memiliki nilai-nilai, antara lain nilai jati diri/identitas bangsa, kesejarahan, lingkungan, sosial, politik, ideologi, ekonomi, dan budaya. Jika hal tersebut dikelola secara optimal dalam rangka pembangunan berkelanjutan akan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk terus melestarikan kota pusaka itu, salah satu upaya pemerintah adalah melalui Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP). P3KP didesain sebagai platform bersama-sama seluruh pemangku kepentingan dalam menata dan melestarikan kota pusaka di Indonesia dengan tujuan mewujudkan ruang kota yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan, berbasis pada nilai-nilai pusaka kota. Tak hanya program P3KP yang dibahas dalam tm_magazine kali ini, namun upaya pemerintah untuk merevitalisasi kawasan pusaka juga akan dibahas. Salah satunya adalah upaya Pemerintah Kota Sawahlunto yang serius mempersiapkan kotanya untuk mendapat pengakuan sebagai kota pusaka dunia oleh UNESCO. Selain itu, KIPRAH juga coba mengangkat tentang kehidupan masyakat di dusun kuno Wae Rebo agar kita dapat belajar tentang pelestarian. Di dusun terpencil ini seluruh warganya memiliki komitmen untuk melestarikan bentuk dan jumlah rumah adat mereka selama 19 generasi, sehingga kemudian UNESCO memberi penghargaan Award of Exellence.

Sistem Macapat yang mewarnai kota-kota di Indonesia juga akan dibahas dalam tm_magazine kali ini. Sistem Macapat merupakan peninggalan arsitektur tata letak kota kuno, yaitu adanya alun-alun (tanah lapang) yang dikelilingi oleh bangunan fungsional, seperti keraton, tempat pemujaan, pasar, dan penjara.

Selain laporan utama, KIPRAH Volume 61 ini akan mengangkat laporan khusus tentang pembangunan berkelanjutan di pulau-pulau terluar mengingat pulau-pulau kecil terluar memiliki peran penting dan strategis, terutama dalam hal kedaulatan. Dalam laporan khusus tersebut digambarkan bagaimana kerasnya kehidupan di pulau-pulau seperti Sangihe-Talaud, Kepulauan Talaud, Karimun, Enggano, dan Maratua serta upaya pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan di pulau-pulau tersebut.

Semoga KIPRAH tm_magazine kali ini bisa membangun inspirasi bagi pembaca semua untuk turut melestarikan kota pusaka dan membuka cakrawala terhadap pembangunan di pulau-pulau terluar.