Antisipasi Bencana di Bumi Indonesia





KIRANYA tak berlebihan jika tema Laporan Utama yang diangkat Majalah Kiprah tm_magazine 60 ini adalah Antisipasi terhadap Bencana, mengingat Indonesia adalah sebuah negara yang sangat rawan terhadap bencana. Banyak kota besar yang terletak di muara sungai atau di daerah aliran pertemuan beberapa sungai besar yang rentan terhadap banjir dan daerah yang terletak di dataran rendah dekat pantai juga rentan terkena banjir rob. Di sisi lain, sebagai negara yang berada dalam zona cincin api, Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 170 diantaranya termasuk gunung berapi aktif, sehingga potensi bencana erupsi juga sangat tinggi. Negeri ini pun rawan akan gempa bumi sebab dilalui oleh jalur pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.

Karena Indonesia rentan terhadap bencana maka masyarakat Indonesia hidup akrab dengan resiko bencana sebagaimana yang dikupas pada artikel pertama Laporan Utama. KIPRAH tm_magazine kali ini, bukan hanya mengupas kejadian bencana yang telah terjadi tetapi juga bagaimana cara kita untuk mengantisipasi bencana dan belajar dari bencana yang telah terjadi tersebut. Artikel Belajar dari Bencana Sinabung adalah salah satu artikel yang mengupas bagaimana menyikapi bencana dan masalah serta kendala yang dihadapi masyarakat yang terkena dampak bencana.

Berbagai bencana yang terjadi akhir-akhir ini juga tidak terlepas dari perubahan iklim yang dipicu oleh global warming, sehingga kita tidak boleh mengabaikan informasi cuaca. Terdapat 60 kota di Indonesia yang rawan banjir dan 30 kota yang rawan tsunami, sehingga upaya mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim perlu dilakukan. Awal dari bencana ini adalah pola hidup manusia yang semena-mena tanpa memperhatikan daya dukung alam lingkungan bumi. Oleh karenanya, mengubah gaya hidup untuk meredam bencana adalah salah satu hal yang mutlak dilakukan. Salah satunya adalah mengurangi emisi gas rumah kaca, cara bertransportasi yang ramah lingkungan, dan mengurangi timbulan sampah.

Di pihak lain, berbagai upaya juga telah dilakukan Kementerian PU, baik dalam tahap tanggap darurat maupun dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pemantauan secara intensif terhadap infrastruktur PU seperti bendungan dan jembatan, harus terus dilakukan agar infrastruktur tersebut dapat dipertahankan dari bencana. Yang paling terpenting adalah pengelolaan bencana harus dilakukan secara terpadu dan bukan pula sekedar tindakan periodik yang sesaat serta mendapat dukungan dari semua pihak.