Geliat Konstruksi Indonesia





KIPRAH tm_magazine 59 mengangkat Laporan Utama tentang geliat konstruksi Indonesia. Bukan tanpa alasan. Harus diakui bahwa sektor konstruksi, sebagaimana disebutkan oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, merupakan salah satu sektor dalam perekonomian nasional yang memiliki pertumbuhan 7,5% per tahun dan kontribusi terhadap PDB hingga 10,45% pada tahun 2012.

Sementara itu, potensi pertumbuhan pasar konstruksi Indonesia ke depan diprediksi masih cukup tinggi. AECOM Technology Corporation, salah satu perusahaan konstruksi terbesar dunia bahkan merilis dalam Laporan Asia Construction Outlook 2013 (Proyeksi Konstruksi Asia 2013) bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat pertumbuhan pasar konstruksi tercepat di wilayah Asia, di atas China dan India. Tentu pengakuan tersebut merupakan hal yang sangat membanggakan.

Untuk mengupas lebih jauh mengenai pertumbuhan pasar kontruksi di Indonesia tersebut, dapat dibaca artikel-artikel Laporan Utama. Dalam artikel Pasar Konstruksi: Tumbuh Cepat di Tengah Persaingan disebutkan bahwa menurut Global Competitiveness Report 2013-2014, Indonesia berada pada peringkat 38 dari 148 negara (meningkat 12 peringkat dibandingkan tahun 2012-2013). Kenaikan peringkat ini dikarenakan Indonesia mampu meningkatkan pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, fasilitas air bersih, hingga pembangkit listrik. Meskipun mengalami kenaikan pesat, namun posisi Indonesia tersebut masih berada di bawah Thailand (peringkat 37), Brunei Darussalam (peringkat 26), dan Malaysia (peringkat 24). Indonesia hanya lebih baik dari Filipina (peringkat 59) dan Vietnam (peringkat 70). Artinya, dengan posisi tersebut, Indonesia masih harus meningkatkan penyediaan infrastruktur yang memadai bagi masyarakat sehingga dapat lebih meningkatkan daya saingnya.

Untuk meningkatkan daya saing konstruksi nasional, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah. Kementerian PU melalui Badan Pembinaan Konstruksi, salah satunya telah menetapkan arah (strategic goal) pembinaan sumber daya investasi, yaitu efisiensi sistem sektor konstruksi. Selain itu, dalam rangka meningkatkan daya saing di lingkungan ASEAN, para pemimpin ASEAN telah sepakat untuk segera mempercepat terbentuknya ASEAN Economic Community (AEC) atau Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015. Pembentukan AEC ini akan menempatkan ASEAN sebagai pasar terbesar ke-3 di dunia yang didukung oleh total jumlah penduduk ke-3 terbesar di dunia (8% dari total penduduk dunia) setelah China dan India. Dengan dibentuknya AEC ini, maka tenaga kerja sektor konstruksi Indonesia harus segera ditingkatkan.

Dalam rangka mempersiapkan tenaga kerja insinyur dan arsitek Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum telah melakukan berbagai hal, antara lain pelaksanaan workshop dan sosialisasi ASEAN MRA (Mutual Recognition Arrangement) yang bertujuan merekrut insinyur dan arsitek Indonesia untuk meningkatkan daya saing tenaga ahli konstruksi Indonesia di tingkat ASEAN, mengingat nilai rasio per 1 juta penduduk Indonesia untuk jumlah insinyur masih kalah jika dibandingkan dengan Vietnam sekalipun. Tenaga kerja konstruksi ini dikupas lebih lanjut dalam artikel-artikel Laporan Utama Majalah KIPRAH tm_magazine kali ini.

Untuk Laporan Khusus dan kolom Jelajah tm_magazine kali ini, Majalah KIPRAH mengupas tentang geliat pengembangan daerah-daerah di Kawasan Timur Indonesia, seperti Papua, Sulawesi Utara, termasuk Sangihe, dan Sulawesi Tengah. Selain itu, juga dibahas kondisi infrastruktur terkini di Kalimantan Barat dan Pulau Bintan.

Akhirnya, seluruh tim redaksi mengucapkan Selamat Tahun Baru 2014 kepada semua pembaca setia Majalah KIPRAH.