Mewujudkan Kota Yang Layak Untuk Semua





 

Ada dua hal penting yang dibahas dalam Laporan Utama Kiprah tm_magazine 56 ini. Pertama adalah menyangkut tema ‘Urban Mobility’ atau ‘Mobilitas Perkotaan’ yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tema Hari Habitat Dunia, karena sangat disadari bahwa mobilitas (pergerakan) dan akses manusia terhadap jasa dan pelayanan sangat penting untuk menunjang fungsi kota yang efektif. Kedua adalah tema Nasional Hari Habitat Dunia yakni ‘Kota untuk Semua’.

Untuk mengupas fenomena pentingnya mobilitas (pergerakan) dan akses manusia terhadap jasa dan pelayanan, tulisan “Agar Warga Kota Bernapas Lega” menjelaskan tentang hal tersebut. Dalam tulisan tersebut pengamat perkotaan Nirwono Yoga mencontohkan Jakarta sebagai ibukota negara dapat menjadi kota yang layak huni jika seluruh transportasi massal telah terintegrasi satu sama lain, memiliki ruang terbuka hijau sebanyak 30 persen dari seluruh luas Jakarta, dan semakin diperbanyaknya hunian vertikal. Nirwono pun menyarankan agar Ibu Kota juga membagikan perannya dengan kota-kota satelit, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi untuk mengurangi jumlah perpindahan.

Untuk menjadikan kota yang layak bagi semua, tulisan “Mewujudkan Kota Yang Layak untuk Semua dan “Solusi Kota agar tak Boros” yang memberikan solusi dari fenomena pembangunan kota acak (urban sprawl development) yang terjadi di hampir seluruh kota di dunia, melalui pembangunan kota kompak. Bentuk kota yang compact akan mampu mereduksi jarak tempuh perjalanan sehingga dapat menurunkan tingkat mobilisasi penduduk di sebuah kota. Tingkat kepadatan yang tinggi sebenarnya akan memberikan keuntungan dalam penyediaan pelayanan, Transportasi umum, pengelolaan sampah, pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Untuk menjadikan kota yang layak bagi semua mungkin kita harus berkaca pada salah satu kota tersibuk Australia, yakni Melbourne yang dipilih oleh The Economist sebagai kota yang paling layak huni saat ini. Dalam laporan utama yang kami sajikan, dapat disimpulkan bahwa Melbourne terpilih sebagai livable city tertinggi karena infrastrukturnya terbangun dan terjalin dengan sempurna di setiap sudut kota. Selain itu, kota ini juga mendapat skor tertinggi untuk bidang kesehatan dan pendidikan. Di sisi lain, untuk menjadikan kota-kota di Indonesia menjadi hunian yang layak, kenyataan yang dihadapi adalah masalah permukiman kumuh, sebagaimana dikupas dalam laporan utama Kiprah kali ini.

Untuk mewujudkan kota yang layak bagi semua maka partisipasi seluruh masyarakat sangatlah diperlukan. Kiranya pesan Hari Habitat Dunia mestinya kita laksanakan segera dimulai dari kita sendiri. Akhirnya Selamat Hari Habitat Dunia 2013.