Jakarta: Segudang Harapan Setumpuk Pekerjaan





 

SEGUDANG Harapan Setumpuk Pekerjaan. Tagline itu kiranya pantas diberikan kepada ibukota kita tercinta DKI Jakarta. Ibaratnya Jakarta adalah gula yang menarik bagi semut-semut untuk datang. Berdasarkan data dari BPS DKI, potensi ekonomi yang dimiliki Jakarta dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada 2011 lalu sebesar 6,7% yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 6,5% pada tahun yang sama. Di sisi lain, pertumbuhan pertumbuhan penduduk di Jakarta sudah mencapai 1,42% per tahun dengan total jumlah penduduk pada tahun tersebut mencapai 9,6 juta jiwa dan di siang hari bertambah 2,4 juta jiwa (BPS DKI).

Di balik potensi ekonomi dan jumlah penduduk yang besar itu, Jakarta masih menyimpan segudang masalah diantaranya kawasan permukiman kumuh yang diperkirakaan luasnya mencapai kurang lebih 8.000 ha (12%) atau 416 RW kumuh di Jakarta (data BPS 2011). Selain masalah kekumuhan, Jakarta juga menghadapi persoalan dalam banjir mengingat Kota Jakarta merupakan muara sekitar 13 sungai besar, sementara di sisi lain infrastruktur drainase kota yang kurang memadai sehingga ketika hujan besar datang, kota ini bak kolam raksasa. Menurut data dari dinas PU DKI Jakarta, titik Rawan Banjir di Jakarta saat ini mencapai 62 titik. Kemacetan juga masih menjadi momok menakutkan bagi warga DKI Jakarta, dan di sisi lain public transport masih belum memadai. Kemacetan tak dapat dielakkan mengingat jumlah kendaraan bermotor di Jakarta terus bertambah 1.117 unit per hari atau meningkat sekitar 9% per tahun.

Kiprah tm_magazine 53 ini utamanya menyoroti masalah kekumuhan, banjir dan kemacetan ini dengan narasumber dari berbagai kalangan seperti pengamat perkotaan, birokrat, masyarakat, organisasi profesi dan lainnya. Pengamat perkotaan Marco Kusumawijaya menekankan adanya dua masalah yang seharusnya jadi perhatian penting pemerintah yakni soal kemacetan dan banjir. Terkait dengan banjir ini, pembenahan transportasi massal tampaknya menjadi hal yang utama dan sedangkan terkait banjir perlu penanganan secara terintegrasi. Artikel lainnya dalam tm_magazine kali ini juga mengupas bagaimana upaya mengatasi persoalan Jakarta diantaranya bagaimana membuat Jakarta makin hijau, rencana pembangunan Mass Rapid Transit Jakarta (MRT), penataan permukiman kumuh, normalisasi Ciliwung serta rencana mengelola pasar tradisional dan PKL.

Semoga apa yang kami sajikan dalam Kiprah 53 ini, menyoroti masalah dan penanganan Kota Jakarta dapat memberi masukan berarti bagi pembangunan kota Jakarta yang saat ini mempunyai pemimpin baru. Seperti yang dikatakan Jokowi bahwa beliau bukan dewa, mengingat begitu besarnya masalah yang dihadapi Jakarta, maka mari kita bersama-sama memberikan masukan berarti dan bahkan memulai dari diri kita untuk membuat Jakarta menjadi ibukota negara yang dapat membanggakan di mata dunia.