Kota Hijau, Sebuah Kebutuhan





 

Tema yang diangkat KIPRAH tm_magazine 52 ini adalah kota hijau sebagai sebuah kebutuhan. Bukan tanpa alasan kami mengangkat tema tersebut, karena dalam perkembangan terakhir isu tentang kota hijau ini semakin kuat, akibat penduduk perkotaan yang makin meningkat dan perubahan iklim global. Karenanya kota hijau menjadi suatu kebutuhan yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Kota hijau (green city) merupakan kota yang sehat secara ekologis. Menurut Imam S. Ernawi, Dirjen Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), penataan kota yang merujuk pada konsep “green city” atau kota hijau, tidak sekadar mengedepankan pembangunan ruang terbuka hijau (RTH), melainkan juga merencanakan dan menata ulang kota secara sehat dan ekologis. Untuk mewujudkan kota hijau itu, saat ini Kementerian PU tengah giat melakukan Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH).

Dalam pengembangannya, P2KH memiliki 8 atribut kota hijau, yaitu green planning and design, green open space, green communities, green energy, green transportation, green water, green building, dan green waste. Kota hijau harus dipahami sebagai kota yang memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber daya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, dan mensinergikan lingkungan alami dan buatan. Dalam KIPRAH tm_magazine kali ini akan membahas secara detail tentang 8 atribut kota hijau tersebut dalam bentuk artikel-artikel di laporan utama.

Secara kebetulan tema yang diangkat KIPRAH tm_magazine 52 ini juga terkait dengan peringatan Hari Tata Ruang tahun 2012. Tema yang diusung dalam Hari Tata Ruang kali ini adalah Green City for a Better Life. Berkaitan dengan tema tersebut, menarik apa yang dikatakan Ridwan Kamil, bahwa kota-kota besar itu cenderung menjadi kota sakit akibat kurang seimbangnya antara pembangunan fisik dan ruang terbuka hijau. Kuncinya, untuk menciptakan sebuah kawasan menjadi kota sehat atau kehidupan lebih baik, maka pemerintah dan masyarakat harus mengejar target luasan persentase ruang terbuka hijau sebesar 30% dengan resapan air 100%.

Selain tentang kota hijau, KIPRAH tm_magazine 52 juga meliput khusus tentang Indonesia International Infrastructure Conference and Exhibition 2012 (IIICE’12) dengan tema “Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Melalui Peningkatan Konektivitas” yang berlangsung 28-30 Agustus di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta serta liputan khusus tentang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy mengingat kondisinya yang saat ini sedang kritis.

Harapan kami, semua artikel yang disajikan dapat menggugah kesadaran kita untuk mulai memikirkan dan melaksanakan konsep kota hijau tersebut, yang harusnya dapat dimulai dari diri kita sendiri. Kiranya kota hijau tidak hanya menjadi wacana tapi secara cepat dapat terwujud di kota-kota di Indonesia.

Semoga.