Mengupas Konstruksi Indonesia





Tantangan Dunia Usaha Jasa Konstruksi Nasional

Saat ini sektor konstruksi menempati peringkat ke enam dari sembilan sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, yakni sebesar 9,9 % dari PDB Nasional. Angka ini menunjukkan pentingnya sektor konstruksi dalam pembangunan nasional. Tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya di sektor inipun tak kurang banyaknya. Tercatat bahwa pada tahun 2009 jumlahnya mencapai 5,4 juta orang atau 5,3 % dari tenaga kerja nasional. Belum lagi ditambah dengan kebijakan pemerintah untuk memfokuskan diri pada pembangunan infrastruktur, dimana sebagian besar diantaranya melibatkan industri dan jasa konstruksi, jadilah sektor ini pada tahun-tahun belakangan menjadi terasa hingar bingar.

Namun, di tengah suka cita yang tengah dan bakal dihadapi, timbul kekhawatiran sementara pihak akan kesiapan dunia usaha jasa konstruksi nasional. Mengapa demikian? Dari jutaan tenaga kerja yang terlibat, ternyata, data di Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) pada tahun 2008, menyebutkan bahwa tenaga ahli yang tercatat ternyata kurang dari 100 ribu orang. Itu berarti hanya sekitar 2% dibanding dengan keseluruhan tenaga kerja yang ada. Dalam hal badan usaha jasa konstruksi yang terlibat, data dari lembaga yang sama menyebutkan bahwa dari sekitar 1,3 juta perusahaan yang tercatat, ternyata hanya 0,5% yang berkualifikasi besar. Data-data di atas mengindikasikan kondisi yang mengkhawatirkan dalam hal kemampuan teknis dan manajerial untuk menghasilkan karya konstruksi yang berkualitas. Ditambah dengan kemungkinan masuknya beberapa perusahaan asing - tambahan terhadap 85 perusahaan asing yang memang sudah beroperasi di Indonesia saat ini - sebagai konsekuensi beberapa ditanda tanganinya beberapa perjanjian internasional dan regional seperti Asean-China Free Trade Agreement (A-CFTA), maka kekhawatiran tersebut jelas sangat beralasan.

Hal lain yang tak kalah fenomenalnya adalah tuntutan masyarakat akan penerapan teknik konstruksi yang mempertimbangkan dengan seksama keberlanjutan lingkungan. Kita sering menyebutnya dengan ‘green construction’.

Dengan demikian, tantangan utama dari masyarakat jasa konstruksi nasional, dengan dukungan pemerintah tentunya, adalah meningkatkan kompetensi para pihak yang terlibat dalam usaha jasa konstruksi nasional, agar siap menghadapi tantangan peningkatan volume pembangunan sektor konstruksi, persaingan dengan badan usaha dan tenaga ahli asing, serta ikut berkompetisi memperebutkan ‘kue’ di pasar global, dengan tetap mempertimbangkan kaidah keberlanjutan lingkungan.