Menyulap Permukiman Kumuh menjadi Layak Huni


Penataan kawasan kumuh merupakan wujud kolaborasi antara Kementerian PUPR dan pemerintah daerah dalam mendorong dan memberdayakan masyarakat, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasannya.

Wajah permukiman nelayan Tegalsari tampak begitu asri. Sejak 2016, lingkungannya perlahan mulai ditata rapi. Jalannya juga diperbaiki dan dipasang beberapa tempat sampah. Terdapat ruang terbuka public untuk area bermain anak dengan beragam fasilitas permainan. Sudah ada drainase, MCK komunal, gazebo, jembatan, penerangan jalan, pedestrian, dan turap.

Kondisi itu sangat berbeda jauh jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kampung tersebut merupakan salah satu kawasan kumuh di Kota Tegal. Luasnya sekitar 27 hektare dan dihuni sebanyak 2.456 jiwa yang mayoritas bermatapencaharian nelayan. Kondisi jalan lingkungan bervariasi dengan lebar antara 1-3 m dan berkelok-kelok tanpa dilengkapi saluran drainase. Elevasi jalan sangat rendah sehingga cenderung terjadi genangan pasca air pasang (banjir rob).

Warga juga masih membuang sampah, air besar (BAB) sembarang di tepi sungai, dan membuang limbah domestik langsung ke sungai. Untuk sumberair minum, sebagian penduduk telah memanfaatkan sumber dari PDAM namun masih ada sebagian yang menggunakan air tanah dangkal yang tidak layak dikonsumsi.

 Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan penataan kawasan kumuh merupakan wujud kolaborasi antara Kementerian PUPR dan pemerintah daerah dalam ..

 

Selengkapnya pada KIPRAH Vol 100/Tahun XIX/Edisi Oktober 2019 Edisi Khusus Majalah KIPRAH 100 ''Mengawal Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan''