Memacu Ekonomi Sabuk Merah

Pesona alam Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Hamparan pantai dengan perbukitannya menjadi primadona bagi para wisatawan yang
berkunjung ke provinsi yang terletak di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara itu. Beberapa pulau di antaranya sudah populer hingga ke mancanegara seperti Pulau Komodo, Sumba, dan Flores.

Namun pesona itu ternyata juga dimiliki daerah yang letaknya di daerah perbatasan. Sebuah sabana Fulan Fehan di Lamaknen, Kabupaten Belu, salah satunya. Kawasan tersebut merupakan bagian dari jalur terkenal yang disebut ‘Sabuk Merah’ Sektor Timur yang membentang dari Kabupaten Belu hingga Kabupaten Malaka.

Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan di NTT sebagai wujud nyata membangun Indonesia dari pinggiran, Kementerian PUPR terus berupaya meningkatkan layanan sejumlah infrastruktur di wilayah tersebut. 

Langkah nyata yang dilakukan diantaranya menyelesaikan penataan jalan kawasan perbatasan. Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) X Kupang—Direktorat Jenderal Bina Marga tengah membangun jalan perbatasan NTT berbatasan dengan Timor Leste. 

Total panjang Sabuk Merah Sektor Timur mencapai 179,99 kilometer. Sepanjang 85 kilometer di antaranya sudah dilakukan pengaspalan pada 2018. Tahun ini jalan beraspal tersebut akan ditambah sekitar 46 kilometer. Sisanya akan dituntaskan pada tahun depan.

Sepanjang Jalan Sabuk Merah Sektor Timur tersebut rencananya akan dibangun sebanyak 44 buah jembatan dengan panjang 1.600 meter. Hingga 2018, telah terbangun sebanyak 31 buah jembatan dengan panjang 1.250 meter. Adapun tahun ini, akan diselesaikan 13 buah jembatan terbuat dari rangka baja dengan bentang rata-rata 60 meter.